Hai kali ini aku akan bercerita tentang seputar kehidupan remaja ku. Hehehe… Ya pasti kalian mungkin udah pada bisa nebak ginama alur cerita ini. Pasti gak jauh – jauh dari yang namanya CINTA. Hahaha.. Munafik banget kalau kita merasa kata itu hanya sampah. Tapi gakpapa. Aku hanya ingin menceritakan sedikit soal apa yang aku alami sekarang.
So please enjoy this.
NAMANYA AMELLIA
OSPEK #Part 1
Ritual yang sama seperti ospek hari pertama. Berangkat jam 5 pagi dengan berbagai atribut yang gak karuan bentuknya. Kali ini aku berangkat bareng sama Upik, dia teman satu kontrakan ku dan kita sama-sama satu jurusan. Masalah pagi ini di awali dengan dompet Upik yang ketinggalan di kontrakan. Alhasil kita terpaksa ngutang dulu untuk beli atribut-atribut yang sudah di tentukan oleh panitia. Di depan kamus aku pisah sama Upik karena aku bawa motor jadi aku harus nenteng motor ku ke parkiran sedangkan Upik langsung masuk ke barisan. Sial ospek kali ini panitianya lebih galak-galak. Ya aku Cuma bisa sabar aja, yang aku yakin mereka gak mungkin “main tanggan” karena emang udah ada peraturanya. Pagi sampai siang acaranya cuma gitu-gitu aja. Mana kita dijemur di bawah matahari, aiis cocok sudah penderitaan ku. Hahaha. Tiba saatnya untuk istirahat makan siang dan sholat dzuhur. Ketua kelompok ku si Alyas bertugas ngambil makanan sama minum. Aku tinggal duduk santai nungguin makan datang sembari ngeliat kekonyolan teman ku yang berasal dari Cilacap dengan logat ngapaknya. Hehehe. Akhirnya aku memutuskan untuk sholat terlebih dahulu, setelah sholat baru aku makan. Selesai sholat dan makan aku duduk sendirian, karena aku juga belum banyak kenal sama teman-teman baru ku. Hehe.
Tiba-tiba ada yang mangil aku,“Dewo, kamu dari Bontang kan? Itu loh si Amel juga dari bontang”.
Aku menoleh kaget, ternyata si Wahyu ysng manggil ku. Wahyu ini anak Balikpapan yang masih satu provinsi sana daerah ku.
“Hah, iya to??”, jawab ku kaget.
Dalam hati ku bilang, “ada juga anak Bontang di sini selain aku?”. Hahaha. Cuma bercanda aja aku. Aku langsung teringgat kalau dulu aku juga punya teman kecil yang namanya Amel. Udah hampir enam tahun aku gak ketemu sama dia. “Tapi apa mungkin ini dia?”, tanya ku dalam hati. Ah daripada penasaran mending aku samperin.
Berjalan perlahan aku melihat seorang anak perempuan yang sedang duduk, tampak dari mukanya sangat kelelahan sekali dia. Semakin aku mendekat, semakin jelas wajahnya. Tapi tiba-tiba aku jadi ragu. Setelah ku perhatikan lagi wajahnya, betul saja. Dia bukan Amel yang ku kenal dulu. Tapi aku gak mundur gitu aja, udah terlanjur juga. Ya itung-itung punya teman dari satu daerah kan lumanyan, jadi aku punya teman cerita seengaknya.
“Amel ya??”, sapa ku kedia.
“Iya, kenapa?!”, balasnya. Buset dah jutek amat kata ku dalam hati. Tapi aku cuek aja,
“Anak Bontang juga ya?”, Tanya ku lagi.
“Iyah”, jawabnya singkat.
“Aku juga dari Bontang”,
“hah iyakah? Bontang sebelah mana?”, jawabnya.
Nah mulai dari sini aku ngeliat dia udah mulai welcome, udah mulai gak jutek lagi. Mungkin karena dia tau aku juga anak Bontang.
“Aku dari vidatra”, jawab ku. Vidatra itu asal sekolah pas aku di Bontang.
“Aku dari SMA 1”, sahutnya lagi.
Setelah obrolan yang singkat itu aku kembali duduk di tempat yang sama saat aku makan tadi, ya di dekat Wahyu. Dalam hati ku sempat berkata, “manis juga dia.” Hehehe. Dasar otak gombal. Dan aku belum sempat juga untuk mengenalkan diri ku. Mungkin Amel bertanya-tanya, “siapa cowok begajulan yang tadi kenalan sama aku.” Setelah itu kita seperti menjalani kehidupan kita masing-masing. Dan aku juga sempat lupa kalau aku punya kenalan yang bernama Amel. Aku bahkan sudah malas menginggat masa-masa ospek ku. Aku mulai tenggelam dengan kehidupan baru ku sebagai mahasiswa dan saatnya melanjutkan liburan yang terpotong oleh ospek tadi.